dia yang tak hendak terbakar
mestilah ia yang tak berhasrat
dia yang tak hendak terpanggang
mestilah ia yang tak bergejolak
dia yang tak hendak terjilat
mestilah dia yang tak berjiwa
dia yang tak hendak terbakar
mestilah ia yang tak berhasrat
dia yang tak hendak terpanggang
mestilah ia yang tak bergejolak
dia yang tak hendak terjilat
mestilah dia yang tak berjiwa
menjadi sesuatu yang tak diinginkan adalah sebuah siksaan…
percayalah padaku
mendengar celoteh, senyum dan tawa. memerahnya kedua pipi, penanda kebahagiaan yang samar. cerita tentang hati yang tertikam keriangan. lalu aku bagai kursi, diam tak terperhatikan.
menikmati kesunyian. bibir itu tak henti-henti. menyatakan keindahan hubungan, jalinan asmara. sebuah cerita yang tiada akhir. yang sebenarnya tak mengenal kata. suara mungkin tak sanggup menadahinya. hanya pipi yang memerah. dan semua menjadi tersingkap. aku masih saja menjadi kursi.
aliraan laju kenangan. berbait-bait tarian kebersamaan. aku sebuah kursi yang merana.
kemudian aku mulai menyusuri jalan menuju rumahmu, tanpa perintah pada kaki. hendakku adalah menemuimu. merayap pelan-pelan, mengikuti hentakkan jantung. jantungku telah berkhianat, karena dia berdetak kencang sedang semua ingin kulakukan diam-diam, seperti dahulu. hanya saja hendakku tak mungkin lagi terpenuhi, aku tahu. hanya sebuah rumah bersih, tapi kosong. tak lagi kutemui senyum dan mata lentik itu. jantungku masih bertalu-talu memukul-mukul dada.
lalu kususuri jalan menuju tempat kita saling tatap walau sesaat. kujemput lagi harapan untuk menemuimu. tanganku gemetar, sebuah tremor yang tiba-tiba menyerang, masih seperti dahulu. gemetar yang menjalar ke bibir tanpa bisa kucegah. harapanku tertumpu pada kenangan, yang juga mengkhianatiku. hanya sebuah waduk yang diam dan hutan yang sunyi, tanpa bisa menghadirkan kembali macung hidungmu dan putih lembut kulitmu.
kuhampiri lagi tempat kita berdua meghabiskan pagi dan siang yang terik pada bangku-bangku sekolah. kulewati mushola tempatku mencuri pandang pada bibir merah tanpa pemoles itu. kuraih jendela tempat guru-guru menerima kepindahanmu dahulu ke sekolah kita. tahukah saat pertama kali aku mengintipmu melalui jendela ruang kepala sekolah itu, hanya satu pintaku semoga kau sekelas denganku. dan itu satu-satunya doa yang terjawab tanpa harus tertunda. kuturuti jalan setapak berkerikil di halaman, tempatku berjalan denganmu. sadarkah dirimu, betapa bangganya aku saat itu, seluruh dunia adalah milikku, hanya boleh kubagi denganmu. dan sekarang semua ternyata tidak mampu menghadirkan lagi sosokmu.
tahukah kau, aku telah kehilangan dunia.
sekian lama sudah kita tlah berpisah
kurasa kini engkau tak sendiri lagi
akupun juga seperti dirimu
satu hati telah mengisi hidupku
tak perlu engkau tahu rasa rindu ini
dan lagi mungkin kini kau telah bahagia
namun andai kaudengar syair lagu ini
jujur saja aku sangat merindukanmu
(penggalan lirik ” rindu terlarang” by Broery Pesolima,ah semua selalu benar, seperti biasanya)
malam pemberontakan PKI dan orang-orang bertakbir…
hari kesaktian Pancasila dan orang-orang sholat Ied…
bulan pengendalian ternyata tidak membuatku menjadi lebih bersabar. entah aku marah pada siapa. begitu kalut dan silang sengkarut. dimulai dengan dengan ajakan Mbak Ainun untuk bantuin membagikan sebagian kenikmatan pada bulan penuh berkah di Wahid Institut.
Datang dengan semangat ‘45, sebagian anak-anak BHI membantu. Dimulai dengan acara ceramah yang menyenangkan, sambil menunggu buka puasa dan bagi-bagi sembako. Kemudian datanglah pembagian tas dengan isinya (entah apa?) dan dimulailah keriuhan dan naluri dasar manusia untuk mendapat lebih. Seorang (atau beberapa?) ibu-ibu mengambil tas yang harusnya bagian anak-anak. Dan mulailah kemarahanku. Sebuah ledakan melihat keserakahan. Tapi aku sebenarnya entah marah pada siapa? karena bukan salah mereka bukan jika ingin mendapatkan sesuatu yang tidak biasa didapatkan secara gratis?ah…embuh!
Kemudian datanglah acara buka puasa. Dan sekali lagi naluri menimbun manusia muncul. Satu orang mengambil 3-4 gelas kolak. Mengambil bakso bergenggam-genggam. dan entah apalagi. Mulailah ledakan keduaku. Aku tahu, tak setiap hari mereka mendapatkan hal seperti itu, tapi apakah harus memicu keserakahan? aku marah pada entah siapa, mungkin pada diriku sendiri yang tak mampu apa-apa.
Ledakan ketiga terjadi ketika pembagian sembako. Kekurangsabaran, keinginan mendapat lebih, entah apalagi namanya. Katidaksabaran menjadi ledakan dalam diriku. Ah untunglah semua kebagian.
Tapi mengapa itu terjadi?
sebenarnya tidak mengherankan, jika mereka melakukan hal itu. keserakahan telah menjadi mantra yang sangat hebat di kota Jakarta ini. Setiap hari mereka disuguhi oleh kendaraan yang kinclong dan harganya beratus-raus juta di Jalan. Mereka disuguhi oleh pusat-pusat perbelanjaan yang kian berjubel dengan barang yang mereka impikan pun tidak pernah. mereka disuguhi oleh tontonan di televisi yang megah dan mewah. mereka disuguhi oleh berita-berita dari media yang mempertontonkan kemewahan secara tidak senonoh. Apakah daya yang mereka punya untuk tetap rendah hati dan tidak ingin menikmati sesuatu yang instan?
ah..aku jadi meledak sendiri!!
tak tahu lagi hendak apa. karena tujuan sudah jelas membentang. tapi kabut perlahan menyiksaku. pelan-pelan kebosanan mencekik. gairah meneruskan perjalanan telah habis. aku telah hilang. aku telah jenuh. maafkan aku.
jalan ini menggodaku di awal. tapi aku kehilangan keterjalan. aku kehilangan tantangan. pohon-pohon teduh telah menaungi. aku malas meneruskan. maafkan.
hati siapa yang tak retak. patah. sebuah dampar kencana belum juga cukup. entah kebahagiaan macam apa yang sanggup kuberikan. hanya tubuh yang pasrah yang kau berikan padaku, dinda. tak lebih dari itu. jiwamu tak di sini. aku tahu itu. aku tak menikahi ragamu, tapi juga jiwamu. bukan kepasrahanmu, tapi gelora hatimu.
dinda banowati, aku ingin melepasmu, jika saja cinta tak menahanku melakukan itu. cinta yang sejak semula adalah suci, ternyata melemahkanku. seribu pandawa, sanggup kuhadapi, tapi bukan istriku sendiri. aku tak kan sanggup melawanmu, dinda. aku tak mampu.
kau tahu rasanya digerogoti, sayangku. seperti seribu semut menusukkan taring-taring kecilnya ke hatiku. nyeri yang pelan-pelan. pedih yang pelan-pelan. kematian yang pelan-pelan. ketiadaan yang pelan-pelan.
arjuna, sepupuku, musuh terbesarku. tak cukupkah ia sebagai musuhku dalam dunia ini?kenapakah kaupun terpikat olehnya?
“marah yah? kamu ga kasihan dengan pacarmu ini, lagi terhimpit-himpit di busway..”
ah, sejak mendengar suaramu, tak ada lagi kemarahan. air bening itu membasuh seluruh emosi. hanya rajukan tanda sebuah kasih. tak ada kemilau embun yang tak jatuh ketika tergetar olehnya. kemurkaan segera pudar. seluruh alam akan menyediakan diri untuk menanggung bebanmu. siksaan pada tubuhmu indahmu tak layak terdengar. dilaknatlah seluruh penghuni bumi yang menggoreskan siksa.
“aku tadi ketemu bapak itu, yang dulu pernah aku ceritain…kayaknya dia interest deh..”
cerita yang berulang akan menyesakkan telinga, jika saja bukan suara lembutmu. keberulangan informasi bukanlah hal yang merusak gendang telinga, ketika kerinduan akan suaramu memenuhi setiap sel tubuhl. neuron-neuron menghantarkan sinyal. dada berdegup. paru-paru penuh. ada sesuatu keterdesakan yang indah.
“iya..aku juga pengin ketemu kamu…”
mendengar suaramu telah menggocang setiap inci bagian tubuh. enteng paling kuat pun akan runtuh olehnya. apalagi melihat wajah, menggenggam tanganmu memeluk tubuhmu. sebuah surga tidak perlu lagi disediakan karenanya.

ps. ini hasil curi2 dengar telepon dari seorang perempuan yang bersuara merdu dan manja di busway. jangan tanyakan wajahnya, karena saya tak sempat melihatnya.
urungkan niatmu untuk menorehkan pisau di hatimu, ukir namaku. aku tak lagi bisa menahan hasratku, suatu saat. jangan lagi membuat janji-janji seperti musim-musim yang menjanjikan dirinya akan kembali. sedangkan kau tahu musim pun mengkhianati kita. hujan yang datang tidak indah lagi, angin topan selalu menyertai.
usah terikat oleh kata-kataku, karena aku seorang pengkhianat busuk. seperti semua oknum khianat, wajahku selalu menampilkan sisi surga. bukankah sebaiknya malaikat bersanding dengan setan jika harmoni adalah balasannya. jalan itulah yang kupilih. tak hendak kusesali. takdir menurutku.
sayang, esok lusa mungkin bukan waktumu.