Kau telah membuka kelopak-kelopakmu disaat aku mendekat. Sementara kau tajamkan durimu bagi yang lain. Penerimaan yang tulus, hasrat yang menghambur. Akupun kemudian hinggap sepenuh hasrat. Kewangian dan lembutmu sementara menghiburku.
Maafkan bila aku membiusmu dengan kenakalan masa mudaku yang seharusnya telah lama aku tinggalkan. Godaan untuk itu begitu kuatnya. Dan kaupun jatuh, menyerah pada biusku. Kau serahkan sepenggal hati yang kau jaga dari yang lain. Aku merasa sungaiku akan mampu mengairi tandusnya padangmu. Kaupun merasa gersangmu akan terteduhkan oleh hujanku.
Kahlil Gibhran pernah berkata, cinta yang tidak tumbuh pada pandangan pertama, maka ia tidak akan tumbuh selamanya. Kau dan aku mengikutinya. Dan keniscayaan yang tumbuh dan hidup, dia akan mati. Ternyata akar-akar pohon yang rapuh ini tak mampu menopang lagi rasa itu. Kemampuanku terbatas. Dia yang rapuhpun akan tumbang.
Keacuhan merupakan salah satu alasan. Karena ia adalah sikap pengabaian. Kau tidak bisa menerimanya, sedang diriku menikmati duniaku.
Bukan,bukan salahmu…
Dunia ini masih indah dan kau layak menikmatinya…tanpa aku.
Maafkan aku, Neng…