Kebahagiaan, sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi tiadalah mudah untuk di definisikan. Setiap orang berhak mempunyai definisinya sendiri. Pencapaian terhadap yang diinginkan merupakan salah satunya. Impian yang terwujud merupakan hal yang membahagiakan juga.
Materi merupakan kunci yang selalu diimpikan. Tetapi apakah setelah kunci didapat, pintu langsung terbuka? Tentu saja tergantung pintunya.Tetapi dijaman yang telah berulangkali mengalami dekonstruksi makna hidup ini, materi merupakan panglima. Jadi tiada salah jika ekonomi merupakan hal utama.
Presiden Soekarno pernah menjadikan politik sebagai panglima, pada jamannya. Dikancah perang antara Blok Kapiltalis dan Komunis, politik merupakan satu pilihan bagi sang Presiden, tentu saja bukan Presiden Bundaran HI ini.
Tetapi masih saja terdapat orang-orang yang tidak memuja hal tersebut. Kebahagiaan merupakan perwujudan pengabdian kepada Tuhannya ataupun lingkungannya. Betapa kita lihat, para pendeta Buddha, yang menjalani hidup sengsara berpantang terhadap duniawi atau para penganut Hindu di India yang hanya bercawat demi mengabdikan diri pada Yang Maha Lebih Tinggi. Materi tiada arti dihadapan mereka. Semua berawal dari kehampaan maka semua akan berakhir pada kehampaan.
Mempunyai materi, pernah aku rasakan sebagai kesia-siaan. Uang yang ada hanya sekedar jadi setumpuk kertas. Ya, setumpuk kertas yang tiada berguna, karena tempat itu adalah tengah hutan Sumatera. Makna teman menjadi lebih tinggi. Perkawanan, juga merupakan kebahagiaan. Bahkan dalam cerita klasik C(h)ina, ada seorang yang sampai meninggalkan keluarga, -anak dan istrinya-,selama sepuluh tahun untuk menyelamatkan sahabatnya. Benar atau tidaknya makna cerita tersebut dalam pandangan moral (meninggalkan keluarga merupakan keburukan, menyelamatkan seorang sahabat merupakan kebaikan) saya tiada bisa menghakiminya.
Kebahagiaan adalah penerimaan terhadap keadaan.