Kukuruyuk…

Maret 6, 2007

Kebahagiaan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — kukuruyuk @ 11:50 am

Kebahagiaan, sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi tiadalah mudah untuk di definisikan. Setiap orang berhak mempunyai definisinya sendiri. Pencapaian terhadap yang diinginkan merupakan salah satunya. Impian yang terwujud merupakan hal yang membahagiakan juga.

Materi merupakan kunci yang selalu diimpikan. Tetapi apakah setelah kunci didapat, pintu langsung terbuka? Tentu saja tergantung pintunya.Tetapi dijaman yang telah berulangkali mengalami dekonstruksi makna hidup ini, materi merupakan panglima. Jadi tiada salah jika ekonomi merupakan hal utama.
Presiden Soekarno pernah menjadikan politik sebagai panglima, pada jamannya. Dikancah perang antara Blok Kapiltalis dan Komunis, politik merupakan satu pilihan bagi sang Presiden, tentu saja bukan Presiden Bundaran HI ini.

Tetapi masih saja terdapat orang-orang yang tidak memuja hal tersebut. Kebahagiaan merupakan perwujudan pengabdian kepada Tuhannya ataupun lingkungannya. Betapa kita lihat, para pendeta Buddha, yang menjalani hidup sengsara berpantang terhadap duniawi atau para penganut Hindu di India yang hanya bercawat demi mengabdikan diri pada Yang Maha Lebih Tinggi. Materi tiada arti dihadapan mereka. Semua berawal dari kehampaan maka semua akan berakhir pada kehampaan.

Mempunyai materi, pernah aku rasakan sebagai kesia-siaan. Uang yang ada hanya sekedar jadi setumpuk kertas. Ya, setumpuk kertas yang tiada berguna, karena tempat itu adalah tengah hutan Sumatera. Makna teman menjadi lebih tinggi. Perkawanan, juga merupakan kebahagiaan. Bahkan dalam cerita klasik C(h)ina, ada seorang yang sampai meninggalkan keluarga, -anak dan istrinya-,selama sepuluh tahun untuk menyelamatkan sahabatnya. Benar atau tidaknya makna cerita tersebut dalam pandangan moral (meninggalkan keluarga merupakan keburukan, menyelamatkan seorang sahabat merupakan kebaikan) saya tiada bisa menghakiminya.

Kebahagiaan adalah penerimaan terhadap keadaan.

Maret 5, 2007

Kenyataan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — kukuruyuk @ 2:24 pm

Wajah Raden Yudhistira pun merah padam, akibat penolakan itu. Setelah ia dan saudara-saudaranya terbuang lebih dari 13 tahun ke dalam hutan, sekarang harus berhadapan dengan ambisi Doryudana yang masih ingin memiliki kerajaan lebih lama. Ia yang telah terbuang pun merasa tertusuk. Apa yang diinginkan ternyata tiada kesampaian, dan harus menabrak dinding sekali lagi.

Kenyataan dengan keinginan adalah sesuatu yang sangat berlainan, telah lama kita tahu. Jarak antara bayangan harapan dengan apa yang di dapat dihadapan seringkali membuahkan ketidaknyamanan, bahkan kekecewaan. Kehidupan beralur sering dengan tikungan-tikungan, seperti kata sang feodal, ndoro kakung ini.
Penyikapan terhadap buah angan yang tidak sesuai harapan, seringkali berbeda. Tiada yang salah dengan itu.

Lalu adakah sesuatu yang indah jika kenyataan yang diterima tiada lagi sesuai dengan yang diharapkan? Tentu saja masih ada. Seperti kata seorang dai, entah siapa namanya saya lupa, bahwa jika nasi yang ditanak kenyataannya bubur yang didapat, bukan berarti harus kita buang, tinggal ditambah bawang goreng, kaldu ayam serta kecap dan kerupuk, maka jadilah bubur ayam yang lezat. Tetapi kenyataannya hal itupun susah dan repot.
Ya jelas, jika kenyataan masih dapat kita rubah. Yaitu dengan sikap penerimaan. Tetapi tentu saja effort yang dibutuhkan sangatlah besar. Seperti bubur tadi, dia ternyata masih memerlukan tetek bengek (kaya apa bentuknya ya..tetek yang bengek ini??) yang lain agar bisa kita nikmati. Atau bisa saja kita makan langsung bubur tersebut, tetapi dengan sikap nrimo, dengan pemikiran bahwa yang nanti keluar jugalah sama saja.

Menata hati untuk menerima kenyataan memanglah tiada mudah, tapi bukan tak mungkin.

ps. pepatah jerman mengatakan : “witing tresno jalaran soko kulino”

Blog pada WordPress.com.