Sudah kukatakan, kemarin memang indah sewaktu hujan menerpa jendela-jendela yang mengembun.Janganlah menangis lagi, memang hujan tak mungkin selamanya, seperi juga matahari ketika senja menjelang, dia harus berpulang.Terlalu romantis? Tidak selalu. Karena kaupun tahu hidup tidaklah selalu berjalan diatas rel kereta yang lurus, dia harus berbelok, bahkan kadang tajam.
Ya, matamu masih indah, aku tahu itu. Bukan,bukan aku tidak mau mencumbu. Seperti kemarin, akupun masih punya nafsu. Demi kenangan? Tentu saja aku masih mengenangnya. Bahkan takkan hilang dari pelupuk mata. Kita telah berbagi, tentu saja tak kupungkiri. Tapi maafkan ingatanku yang pendek akan masa-masa bahagia.Dan demi waktu,-seperti kata lagu-, akupun tiada dapat menggali sesuatu yang sudah karam dalam. ah..jangan paksa aku.
Jangan menunduk begitu, aku tak bisa menatap keikhlasan. Tetaplah tegar. Bukankah sudah kukatakan aku tak akan meninggalkan, walaupun juga tak dapat menggenggam. Sudahlah jika memang harus bersedih, tunjukkan saja dengan kemarahan. Ah, kau jangan malah mengurai air mata itu. Kau selalu tahu kelemahanku.
Keindahan memang memikat, bahkan seringkali ia menyengat. Jangan berderai lagi airmatamu itu. Derainya tak lagi sampai ke hati. Kau memintaku terlalu cepat, dan aku mendekat terlalu lambat.
Terimakasih buat Bang Obbie Mesakh atas inspirasinya..(cari webnya kok ga ada yah?)