“marah yah? kamu ga kasihan dengan pacarmu ini, lagi terhimpit-himpit di busway..”
ah, sejak mendengar suaramu, tak ada lagi kemarahan. air bening itu membasuh seluruh emosi. hanya rajukan tanda sebuah kasih. tak ada kemilau embun yang tak jatuh ketika tergetar olehnya. kemurkaan segera pudar. seluruh alam akan menyediakan diri untuk menanggung bebanmu. siksaan pada tubuhmu indahmu tak layak terdengar. dilaknatlah seluruh penghuni bumi yang menggoreskan siksa.
“aku tadi ketemu bapak itu, yang dulu pernah aku ceritain…kayaknya dia interest deh..”
cerita yang berulang akan menyesakkan telinga, jika saja bukan suara lembutmu. keberulangan informasi bukanlah hal yang merusak gendang telinga, ketika kerinduan akan suaramu memenuhi setiap sel tubuhl. neuron-neuron menghantarkan sinyal. dada berdegup. paru-paru penuh. ada sesuatu keterdesakan yang indah.
“iya..aku juga pengin ketemu kamu…”
mendengar suaramu telah menggocang setiap inci bagian tubuh. enteng paling kuat pun akan runtuh olehnya. apalagi melihat wajah, menggenggam tanganmu memeluk tubuhmu. sebuah surga tidak perlu lagi disediakan karenanya.

ps. ini hasil curi2 dengar telepon dari seorang perempuan yang bersuara merdu dan manja di busway. jangan tanyakan wajahnya, karena saya tak sempat melihatnya.
sopo kuwi? mesti bispak hahahahaha…. *negative thingking mode on*
Komentar oleh Hedi — Desember 7, 2007 @ 6:56 pm |
horny kowe tik? nang busway? pils deeehhh.. tapi dari tulisanmu kowe iku ketoke romantis (roman manis hati iblis hehehe)
Komentar oleh de — Desember 9, 2007 @ 6:07 am |
negro?
Komentar oleh Luthfi — Desember 10, 2007 @ 12:44 pm |
gak sempat liat wajahnya, tapi perempuan itu bikin kamu nulis ini? wah, itu pasti setan, tik! percoyo karo aku
Komentar oleh venus — Desember 10, 2007 @ 5:41 pm |
mbake wudo?
Komentar oleh bangsari — Maret 3, 2008 @ 11:38 am |
Pasti awakmu impit2an teko mburine…
Komentar oleh yus aja — April 28, 2008 @ 11:06 pm |