Kukuruyuk…

September 16, 2008

aku meledak

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — kukuruyuk @ 11:15 am

bulan pengendalian ternyata tidak membuatku menjadi lebih bersabar. entah aku marah pada siapa. begitu kalut dan silang sengkarut. dimulai dengan dengan ajakan Mbak Ainun untuk bantuin membagikan sebagian kenikmatan pada bulan penuh berkah di Wahid Institut.

Datang dengan semangat ‘45, sebagian anak-anak BHI membantu. Dimulai dengan acara ceramah yang menyenangkan, sambil menunggu buka puasa dan bagi-bagi sembako. Kemudian datanglah pembagian tas dengan isinya (entah apa?) dan dimulailah keriuhan dan naluri dasar manusia untuk mendapat lebih. Seorang (atau beberapa?) ibu-ibu mengambil tas yang harusnya bagian anak-anak. Dan mulailah kemarahanku. Sebuah ledakan melihat keserakahan. Tapi aku sebenarnya entah marah pada siapa? karena bukan salah mereka bukan jika ingin mendapatkan sesuatu yang tidak biasa didapatkan secara gratis?ah…embuh!

Kemudian datanglah acara buka puasa. Dan sekali lagi naluri menimbun manusia muncul. Satu orang mengambil 3-4 gelas kolak. Mengambil bakso bergenggam-genggam. dan entah apalagi. Mulailah ledakan keduaku. Aku tahu, tak setiap hari mereka mendapatkan hal seperti itu, tapi apakah harus memicu keserakahan? aku marah pada entah siapa, mungkin pada diriku sendiri yang tak mampu apa-apa.

Ledakan ketiga terjadi ketika pembagian sembako. Kekurangsabaran, keinginan mendapat lebih, entah apalagi namanya. Katidaksabaran menjadi ledakan dalam diriku. Ah untunglah semua kebagian.

Tapi mengapa itu terjadi?

sebenarnya tidak mengherankan, jika mereka melakukan hal itu. keserakahan telah menjadi mantra yang sangat hebat di kota Jakarta ini. Setiap hari mereka disuguhi oleh kendaraan yang kinclong dan harganya beratus-raus juta di Jalan. Mereka disuguhi oleh pusat-pusat perbelanjaan yang kian berjubel dengan barang yang mereka impikan pun tidak pernah. mereka disuguhi oleh tontonan di televisi yang megah dan mewah. mereka disuguhi oleh berita-berita dari media yang mempertontonkan kemewahan secara tidak senonoh. Apakah daya yang mereka punya untuk tetap rendah hati dan tidak ingin menikmati sesuatu yang instan?

ah..aku jadi meledak sendiri!!

& Komentar »

  1. salahe sampeyan sugih.

    Komentar oleh bangsari — September 16, 2008 @ 11:49 am | Balas

  2. miSkin koq bangga yah..

    Komentar oleh omith — September 16, 2008 @ 1:19 pm | Balas

  3. postingane pelakon ilmu makrifat

    Komentar oleh iway — September 16, 2008 @ 1:31 pm | Balas

  4. jangankan mereka….
    orang2 kantoran aja klo dapat makan gratis senenge pol, dah makan sampe tuwug masih juga ngantongin buat di bawa ke ruang kerja.

    Komentar oleh evi — September 16, 2008 @ 2:13 pm | Balas

  5. ojo sampe gila mas. sing sabar…
    dan jangan lupa bersyukur bersyukur dan bersyukur

    i luv u mas.. :)

    Komentar oleh nothing — September 16, 2008 @ 5:00 pm | Balas

  6. tapi wes reda pas di sate senayan, kan? :D

    Komentar oleh yuswae — September 16, 2008 @ 7:09 pm | Balas

  7. itu kah sebabnya mereka terus merasa kurang?

    Komentar oleh Hedi — September 16, 2008 @ 9:51 pm | Balas

  8. nek baksone di entekno lak yo ra popo to

    Komentar oleh ahli surga — September 17, 2008 @ 8:04 pm | Balas

  9. kadang emang suka gemes ngeliatnya, tapi ya itu, karena mereka jarang merasakannya ya wajarlah..makanya sering-sering aja bikin kek gini, jadi mereka bisa makin sering merasakan, so ga bakalan serakah lagi, hehehehehehehe….

    Komentar oleh maruria — September 23, 2008 @ 9:05 pm | Balas

  10. ra melu nggrayah..?

    Komentar oleh ngodod — September 24, 2008 @ 10:09 pm | Balas

  11. wah sampeyan cen mung bakat dadi cah saru sih dab!

    Komentar oleh Ndoro Seten — September 25, 2008 @ 8:36 am | Balas


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.