aku akan menulis bait demi bait kenangan ini. untunglah rembulan sedang bersebunyi, hingga tak dibuatnya aku malu pada kecengengan kisah ini. aku masih bisa melukis pada udara, kerut wajahmu. senyum bibirmu. aku tak pandai berkisah, tentu kau tahu itu. mungkin harusnya ini kutulis dalam syair-syair hingga hanya aku sendiri yang tahu. bahkan jika kau tahu, aku yakin kau tak lagi peduli. ah andai saja aku mampu meyakinkanmu…
lalu apalagi yang kuharap selain menghidupkan kenangan?
kemarin lalu…ya kemarin aku menghampirimu dengan penuh harap (selalu saja begitu, maafkan aku..). aku lihat antusias pada matamu. entahlah halusinasiku ataukah kebenaran yang sesaat lewat. kau tersenyum, dan saat itulah dunia menjadi paling nyata bagiku. tak kupungkiri. aku bahagia. entah engkau…
kemudian semua padam. kemudian kehampaan.
tahun-tahun pada saat kita berdekatan. tahun-tahun yang sepenuhnya kuingat.
apa yang kau tawarkan? tak pernah kau tanyakan itu. bahkan ketika aku merasa sanggup melipat dunia ini. bahkan ketika aku menjadi penguasanya. tak pernah pula kau tanyakan pada siapa hasrat terbesarku. tak pula kau tanyakan di mana pusat duniaku. tak pernah.
semoga berbahagia dengannya, wahai kekasihku dalam kenangan.
dari seorang teman, dia tidak menangis hanya saja aku tahu dunianya telah berakhir.
