“Aku masih melihat binar mata itu”, setyo kembali menegaskan.
Sedangkan milkshake yang kembali kuhirup tinggal setengah.
” Tentu saja, tyo, dia masih berbinar, tetapi dia kan sudah milik orang”, balasku sambil menghembuskan asap Marlboro light.
“Siapa bilang dia sudah bersuami?Dia hanya tersenyum ketika kutanya kabar suaminya. Bukankah itu sudah merupakan isyarat yang cukup?” sebuah bantahan yang aku mengerti.”akupun mana mau merusak rumah tangga orang?Kau kan sudah tahu prinsipku itu”imbuhnya.
Febri, sebuah nama yang mungkin tak lekang dari otakku yang susah mengingat ini. Seorang gadis muda dengan wajah yang sangat cantik untuk ukuran kampungku. Gendon, salah satu sahabatku yang lain, dengan susah payah naik sepeda BMX nya sejauh 4 km menuju depan rumah Febri ini. Hanya untuk melihat dia keluar dari rumahnya, melihatnya menyapu halaman rumah atau apapun yang dikerjakan dihalamannya. Sebuah kebodohan yang baru aku mengerti sekarang.Ya cinta monyet. Walaupun tiap hari dapat bertemu di sekolah, tetap saja kelakuan aneh itu dilaksanankan, jika hati Gendon sedang mabuk oleh cinta. Seluruh buah khuldi mungkin akan dilahapnya jika memang itu ganjaran yang harus diterima, hanya untuk memandang dengan syahdu wajah bintang dikelas kami. Ah tetap saja cinta monyet yang menggelikan.
“Kami mengobrol di kafe itu cukup lama”, setyo melanjutkan.
“hhmmm..”,aku lebih tertarik menghisap aroma coklat dari milkshake.
“Dia bertutur..dan bibirnya…yah bibirnya Ndra..ah aku susah melupakannya”, pria, sahabatku yang paling ganteng di kelas kami itu, melanjutkan.
“Mungkin hanya kenangan lamamu saja itu..” sergahku agak malas.
Kecantikannya mungkin memang yang paling menonjol di kelas kami. Akupun sempat tergoda, bahkan hampir seluruh laki-laki dikelas kami aku rasa, kecuali Rudi mungkin. Sejak awal sudah kucurigai si Rudi ini agak melambai, jadi kami sekelas yakin bahwa dia tidak akan tertarik dengan wanita. Ah keanehan dunia yang tak ada putusnya.
“Dia masih lembut seperti yang dulu”,lanjutnya,”Jadi apakah salah bila aku masih berharap?”.
“Tentu saja tidak, tetapi pertimbangkanlah lagi, siapa tahu dia sudah berubah. Mungkin kenanganmu yang dulu dengan keadaanya yang sekarang sudah tidak lagi bisa diakurkan”, Aku sok berargumen.
“Ah…coba saja kalau kamu yang ketemu, pasti akan seperti aku,. Bukankah dulu kamu juga naksir dia?”Setyo tertawa melecehkan.
Febri adalah sekretaris di kelasku,Kelas IIIC di SMP sebuah kecamatan. Aku adalah ketua kelasnya. Dan Setyo, dengan sangat menyesal kukatakan,dia adalah langganan hukuman guru matematika kami. Tetapi nasib mungkin berbicara lain. Sebagai seorang murid langganan hukuman, saat ini dia adalah pengusaha muda yang sukses. Mobilnya bagus, rumahnya megah. Hanya satu yang tidak kumengerti, kenapa tidak satupun wanita yang dipilihnya untuk mendampingi hidup.
“Rambutnya tetap panjang dan lurus sebahu, matanya tetap seperti dulu, binar yang membius” setyo tetap merancau seperti mengomentari miss universe.
“Kulitnya juga tetap putih, hidungnya tetap mancung, dan sekarang bekerja di Bank sebagai sekretaris manager”, dia seperti menjelaskan soal yang paling rumit untuk bisa kujejalkan ke otakku yang memorinya memang terbatas ini.
” Mana ada hidung yang mancung menjadi pesek kecuali terserempet kereta Argo Bromo”jawabku sembarangan.
”Yang lebih penting lagi, kami berjanji untuk bertemu lagi rabu depan, pas makan siang” kulihat sinar mata Setyo seperti sinar mata seorang yang memakai baju putih abu-abu.
Sahabatku ini ternyata bisa berpikir juga tentang cinta, selain bagaimana membuat dirinya bertambah kaya, pikirku.
Kami berpisah dengan Febri ketika mulai menempuh kuliah. Dia pindah ke Malang, sedang aku ke Bandung dan Setyo lebih senang menuju Jakarta. Setyo kembali kutemui sejak aku pindah keJakarta untuk menjadi kuli gambar bangunan.Sedang Febri, entah kemana dia. Sudah sepuluh tahun yang lalu.
Sore itu aku kembali ke kantor, karena ada klien yang akan datang melihat gambar rancanganku. Beliau telah memesan gambar rancangan tersebut untuk rumah barunya yang sangat megah.
“Pak, Sudah ditunggu di ruang meeting untuk presentasi” Devi mengingatkanku.
“Selamat Sore, Pak Doni, senang sekali anda bisa datang, dan kebetulan gambarnya sudah siap” aku menyapa dan bersalaman.
“Terima kasih, kebetulan saya bawa anak istri sekalian untuk melihat rancangan tersebut”Balasnya.”Ini istri saya Febri, dan jagoan kecil saya Edwin”