Kukuruyuk…

September 14, 2007

tolong dipilihkan…

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — kukuruyuk @ 3:17 pm

di halte ini
wangi tubuhmu yang dulu
tiba-tiba menyeruak
disela-sela riuh
ah..ternyata wangimu telah lama tertinggal dalam angan

atau baiknya begini saja

di kerumunan gegas
antara wangi parfummu
keringat dan debu
kau tiba-tiba hadir lagi
menyentuh ujung ingatanku

(ingatan tentang halte busway dukuh atas dan wangi bau tubuh itu)

September 10, 2007

kemarin itu

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — kukuruyuk @ 4:38 pm

hujan kemarin itu, sayang

tidak indah sama sekali….

Agustus 27, 2007

aku tak lagi bisa

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — kukuruyuk @ 5:57 pm

aku tak lagi bisa merayumu seperti Sapardi melantunkan cinta sederhananya. Karena aku bukan api dan tak hendak menjadikanmu abu. Pujianku mungkin tak berbanding dengan kenyataan. Karena apalah pujian itu jika dibandingkan dengan binar matamu, lentik jarimu. Tak ada rongga pori-pori yang tak terisi oleh bisik redup suaramu atau renyah tawamu. Dekapmu atau lembut bibirmu, menghapus kata-kata dan meniadakan dunia. Harum tubuhmu dan lembut gerakmu mampu meredam ombak lautan yang paling mengelegar. Dan aku kehilangan kata-kata untuk itu…

waduh..modar jek!! glodak!!!….meoooong :D

Juli 25, 2007

tidak usah terburu-buru, aku tidak mencintaimu

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — kukuruyuk @ 9:55 am

Sudah kukatakan, kemarin memang indah sewaktu hujan menerpa jendela-jendela yang mengembun.Janganlah menangis lagi, memang hujan tak mungkin selamanya, seperi juga matahari ketika senja menjelang, dia harus berpulang.Terlalu romantis? Tidak selalu. Karena kaupun tahu hidup tidaklah selalu berjalan diatas rel kereta yang lurus, dia harus berbelok, bahkan kadang tajam.

Ya, matamu masih indah, aku tahu itu. Bukan,bukan aku tidak mau mencumbu. Seperti kemarin, akupun masih punya nafsu. Demi kenangan? Tentu saja aku masih mengenangnya. Bahkan takkan hilang dari pelupuk mata. Kita telah berbagi, tentu saja tak kupungkiri. Tapi maafkan ingatanku yang pendek akan masa-masa bahagia.Dan demi waktu,-seperti kata lagu-, akupun tiada dapat menggali sesuatu yang sudah karam dalam. ah..jangan paksa aku.

Jangan menunduk begitu, aku tak bisa menatap keikhlasan. Tetaplah tegar. Bukankah sudah kukatakan aku tak akan meninggalkan, walaupun juga tak dapat menggenggam. Sudahlah jika memang harus bersedih, tunjukkan saja dengan kemarahan. Ah, kau jangan malah mengurai air mata itu. Kau selalu tahu kelemahanku.

Keindahan memang memikat, bahkan seringkali ia menyengat. Jangan berderai lagi airmatamu itu. Derainya tak lagi sampai ke hati. Kau memintaku terlalu cepat, dan aku mendekat terlalu lambat.

Terimakasih buat Bang Obbie Mesakh atas inspirasinya..(cari webnya kok ga ada yah?)

Juli 11, 2007

urip

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — kukuruyuk @ 4:42 pm

apalah artinya ketampanan tanpa kepandaian
apalah artinya kepandaian tanpa kekayaan
apalah artinya kekayaan tanpa ketenaran
apalah artinya ketenaran tanpa kebaikan
apalah artinya kebaikan jika ia berdiri sendiri….tanpa semuanya yang diatas itu..

ini serius curhat!!huanjritt..urip kok tambah sengsoro!!!

ps. maafkan saya curhat, karena ini ruang umum yang semuanya bisa menengok, jadi sekali lagi maaf jika mata anda terkotori oleh curhatan saya…

Mei 31, 2007

Binar Mata

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — kukuruyuk @ 10:42 am

“Aku masih melihat binar mata itu”, setyo kembali menegaskan.

Sedangkan milkshake yang kembali kuhirup tinggal setengah.

” Tentu saja, tyo, dia masih berbinar, tetapi dia kan sudah milik orang”, balasku sambil menghembuskan asap Marlboro light.

 “Siapa bilang dia sudah bersuami?Dia hanya tersenyum ketika kutanya kabar suaminya. Bukankah itu sudah merupakan isyarat yang cukup?” sebuah bantahan yang aku mengerti.”akupun mana mau merusak rumah tangga orang?Kau kan sudah tahu prinsipku itu”imbuhnya.

Febri, sebuah nama yang mungkin tak lekang dari otakku yang susah mengingat ini. Seorang gadis muda dengan wajah yang sangat cantik untuk ukuran kampungku. Gendon, salah satu sahabatku yang lain, dengan susah payah naik sepeda BMX nya sejauh 4 km menuju depan rumah Febri ini. Hanya untuk melihat dia keluar dari rumahnya, melihatnya menyapu halaman rumah atau apapun yang dikerjakan dihalamannya. Sebuah kebodohan yang baru aku mengerti sekarang.Ya cinta monyet. Walaupun tiap hari dapat bertemu di sekolah, tetap saja kelakuan aneh itu dilaksanankan, jika hati Gendon sedang mabuk oleh cinta. Seluruh buah khuldi mungkin akan dilahapnya jika memang itu ganjaran yang harus diterima, hanya untuk memandang dengan syahdu wajah bintang dikelas kami. Ah tetap saja cinta monyet yang menggelikan.

“Kami mengobrol di kafe itu cukup lama”, setyo melanjutkan.

 “hhmmm..”,aku lebih tertarik menghisap aroma coklat dari milkshake.

 “Dia bertutur..dan bibirnya…yah bibirnya  Ndra..ah aku susah melupakannya”, pria, sahabatku yang paling ganteng di kelas kami itu, melanjutkan.

 “Mungkin hanya kenangan lamamu saja itu..” sergahku agak malas.

Kecantikannya mungkin memang yang paling menonjol di kelas kami. Akupun sempat tergoda, bahkan hampir seluruh laki-laki dikelas kami aku rasa, kecuali Rudi mungkin. Sejak awal sudah kucurigai si Rudi ini agak melambai, jadi kami sekelas yakin bahwa dia tidak akan tertarik dengan wanita. Ah keanehan dunia yang tak ada putusnya.

“Dia masih lembut seperti yang dulu”,lanjutnya,”Jadi apakah salah bila aku masih berharap?”.

“Tentu saja tidak, tetapi pertimbangkanlah lagi, siapa tahu dia sudah berubah. Mungkin  kenanganmu yang dulu dengan keadaanya yang sekarang sudah tidak lagi bisa diakurkan”, Aku sok  berargumen.

 “Ah…coba saja kalau kamu yang ketemu, pasti akan seperti aku,. Bukankah dulu kamu juga naksir dia?”Setyo tertawa melecehkan.

Febri adalah sekretaris di kelasku,Kelas IIIC di SMP sebuah kecamatan. Aku adalah ketua kelasnya. Dan Setyo, dengan sangat menyesal kukatakan,dia adalah langganan hukuman guru matematika kami. Tetapi nasib mungkin berbicara lain. Sebagai seorang murid langganan hukuman, saat ini dia adalah pengusaha muda yang sukses. Mobilnya bagus, rumahnya megah. Hanya satu yang tidak kumengerti, kenapa tidak satupun wanita yang dipilihnya untuk mendampingi hidup.

“Rambutnya tetap panjang dan lurus sebahu, matanya tetap seperti dulu, binar yang membius” setyo tetap merancau seperti mengomentari miss universe.

 “Kulitnya juga tetap putih, hidungnya tetap mancung, dan sekarang bekerja di Bank sebagai sekretaris manager”, dia seperti menjelaskan soal yang paling rumit untuk bisa kujejalkan ke otakku yang memorinya memang terbatas ini.

” Mana ada hidung yang mancung menjadi pesek kecuali terserempet kereta Argo Bromo”jawabku sembarangan.

”Yang lebih penting lagi, kami berjanji untuk bertemu lagi rabu depan, pas makan siang” kulihat sinar mata Setyo seperti sinar mata seorang yang memakai baju putih abu-abu.

Sahabatku ini ternyata bisa berpikir juga tentang cinta, selain bagaimana membuat dirinya bertambah kaya, pikirku.

Kami berpisah dengan Febri ketika mulai menempuh kuliah. Dia pindah ke Malang, sedang aku ke Bandung dan Setyo lebih senang menuju Jakarta. Setyo kembali kutemui sejak aku pindah keJakarta untuk menjadi kuli gambar bangunan.Sedang Febri, entah kemana dia. Sudah sepuluh tahun yang lalu.

Sore itu aku kembali ke kantor, karena ada klien yang akan datang melihat gambar rancanganku. Beliau telah memesan gambar rancangan tersebut untuk rumah barunya yang sangat megah.

“Pak, Sudah ditunggu di ruang meeting untuk presentasi” Devi mengingatkanku.

“Selamat Sore, Pak Doni, senang sekali anda bisa datang, dan kebetulan gambarnya sudah siap” aku menyapa dan bersalaman.

“Terima kasih, kebetulan saya bawa anak istri sekalian untuk melihat rancangan tersebut”Balasnya.”Ini istri saya Febri, dan jagoan kecil saya Edwin”

Maret 6, 2007

Kebahagiaan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — kukuruyuk @ 11:50 am

Kebahagiaan, sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi tiadalah mudah untuk di definisikan. Setiap orang berhak mempunyai definisinya sendiri. Pencapaian terhadap yang diinginkan merupakan salah satunya. Impian yang terwujud merupakan hal yang membahagiakan juga.

Materi merupakan kunci yang selalu diimpikan. Tetapi apakah setelah kunci didapat, pintu langsung terbuka? Tentu saja tergantung pintunya.Tetapi dijaman yang telah berulangkali mengalami dekonstruksi makna hidup ini, materi merupakan panglima. Jadi tiada salah jika ekonomi merupakan hal utama.
Presiden Soekarno pernah menjadikan politik sebagai panglima, pada jamannya. Dikancah perang antara Blok Kapiltalis dan Komunis, politik merupakan satu pilihan bagi sang Presiden, tentu saja bukan Presiden Bundaran HI ini.

Tetapi masih saja terdapat orang-orang yang tidak memuja hal tersebut. Kebahagiaan merupakan perwujudan pengabdian kepada Tuhannya ataupun lingkungannya. Betapa kita lihat, para pendeta Buddha, yang menjalani hidup sengsara berpantang terhadap duniawi atau para penganut Hindu di India yang hanya bercawat demi mengabdikan diri pada Yang Maha Lebih Tinggi. Materi tiada arti dihadapan mereka. Semua berawal dari kehampaan maka semua akan berakhir pada kehampaan.

Mempunyai materi, pernah aku rasakan sebagai kesia-siaan. Uang yang ada hanya sekedar jadi setumpuk kertas. Ya, setumpuk kertas yang tiada berguna, karena tempat itu adalah tengah hutan Sumatera. Makna teman menjadi lebih tinggi. Perkawanan, juga merupakan kebahagiaan. Bahkan dalam cerita klasik C(h)ina, ada seorang yang sampai meninggalkan keluarga, -anak dan istrinya-,selama sepuluh tahun untuk menyelamatkan sahabatnya. Benar atau tidaknya makna cerita tersebut dalam pandangan moral (meninggalkan keluarga merupakan keburukan, menyelamatkan seorang sahabat merupakan kebaikan) saya tiada bisa menghakiminya.

Kebahagiaan adalah penerimaan terhadap keadaan.

Maret 5, 2007

Kenyataan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — kukuruyuk @ 2:24 pm

Wajah Raden Yudhistira pun merah padam, akibat penolakan itu. Setelah ia dan saudara-saudaranya terbuang lebih dari 13 tahun ke dalam hutan, sekarang harus berhadapan dengan ambisi Doryudana yang masih ingin memiliki kerajaan lebih lama. Ia yang telah terbuang pun merasa tertusuk. Apa yang diinginkan ternyata tiada kesampaian, dan harus menabrak dinding sekali lagi.

Kenyataan dengan keinginan adalah sesuatu yang sangat berlainan, telah lama kita tahu. Jarak antara bayangan harapan dengan apa yang di dapat dihadapan seringkali membuahkan ketidaknyamanan, bahkan kekecewaan. Kehidupan beralur sering dengan tikungan-tikungan, seperti kata sang feodal, ndoro kakung ini.
Penyikapan terhadap buah angan yang tidak sesuai harapan, seringkali berbeda. Tiada yang salah dengan itu.

Lalu adakah sesuatu yang indah jika kenyataan yang diterima tiada lagi sesuai dengan yang diharapkan? Tentu saja masih ada. Seperti kata seorang dai, entah siapa namanya saya lupa, bahwa jika nasi yang ditanak kenyataannya bubur yang didapat, bukan berarti harus kita buang, tinggal ditambah bawang goreng, kaldu ayam serta kecap dan kerupuk, maka jadilah bubur ayam yang lezat. Tetapi kenyataannya hal itupun susah dan repot.
Ya jelas, jika kenyataan masih dapat kita rubah. Yaitu dengan sikap penerimaan. Tetapi tentu saja effort yang dibutuhkan sangatlah besar. Seperti bubur tadi, dia ternyata masih memerlukan tetek bengek (kaya apa bentuknya ya..tetek yang bengek ini??) yang lain agar bisa kita nikmati. Atau bisa saja kita makan langsung bubur tersebut, tetapi dengan sikap nrimo, dengan pemikiran bahwa yang nanti keluar jugalah sama saja.

Menata hati untuk menerima kenyataan memanglah tiada mudah, tapi bukan tak mungkin.

ps. pepatah jerman mengatakan : “witing tresno jalaran soko kulino”

Februari 23, 2007

PUTUS

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — kukuruyuk @ 3:50 pm

Kau telah membuka kelopak-kelopakmu disaat aku mendekat. Sementara kau tajamkan durimu bagi yang lain. Penerimaan yang tulus, hasrat yang menghambur. Akupun kemudian hinggap sepenuh hasrat. Kewangian dan lembutmu sementara menghiburku.

Maafkan bila aku membiusmu dengan kenakalan masa mudaku yang seharusnya telah lama aku tinggalkan. Godaan untuk itu begitu kuatnya. Dan kaupun jatuh, menyerah pada biusku. Kau serahkan sepenggal hati yang kau jaga dari yang lain. Aku merasa sungaiku akan mampu mengairi tandusnya padangmu. Kaupun merasa gersangmu akan terteduhkan oleh hujanku.

Kahlil Gibhran pernah berkata, cinta yang tidak tumbuh pada pandangan pertama, maka ia tidak akan tumbuh selamanya. Kau dan aku mengikutinya. Dan keniscayaan yang tumbuh dan hidup, dia akan mati. Ternyata akar-akar pohon yang rapuh ini tak mampu menopang lagi rasa itu. Kemampuanku terbatas. Dia yang rapuhpun akan tumbang.

Keacuhan merupakan salah satu alasan. Karena ia adalah sikap pengabaian. Kau tidak bisa menerimanya,  sedang diriku menikmati duniaku.

Bukan,bukan salahmu…

Dunia ini masih indah dan kau layak menikmatinya…tanpa aku.

Maafkan aku, Neng…

Februari 21, 2007

blog baru

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — kukuruyuk @ 10:01 am

kenapa harus pindah?

ya gpp…

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.